-->

Video Mesum ini terbagi Menjadi 3 Bagian

Video Mesum gresik1 .rar download

Video Mesum Gresik 2 .rar download

Video Mesum Gresik 3 .rar download

Setelah di download di ekstrak

Selengkapnya...

Bokep Hotttt

Posted by Melany Christy | 9:55 PM | , , | 2 comments »

Bokep asia hot emang bikin horny banget…ouw…..yessss!!

“Bukake - Rino Kamiya” (59 Mb - Flv file)

Download disini


“Bukake - Yuka Haneda” (31 Mb - FLV file)

Download disini


“Bukake - Aya Yuzuki” (12 Mb - FLV file)

Downloaad Disini


“Bukake - Yu Kanata” (11 Mb - FLV file)
Download disini Selengkapnya...

Bokep Mantap bro….

Posted by Melany Christy | 9:51 PM | , , | 3 comments »

Koleksi bokep mantap bro…ora’ usah didiemin…

“Nice Pussy”(43 Mb - FLV file)

Download Disini

“Bri si seksi”

Download disini


“Enak-e cumming ” (66 Mb - FLV file)

Download disini


“Anna” (49 Mb FLV file)

Download disini


“Tukeran Istri” (13 MB FLV file)

Download disini

Selengkapnya...

Koleksi video bokep asing yang menambah sensasi bercinta. Download dengan mengklik gambar dibawah ini. (File FLV)

“Lesbi hot! (6Mb)”

Disini


“Cewek Kampus (23Mb)”
Disini

“4 jari di pantat! (43Mb)
Disini

Selengkapnya...

Nih… film bokep akan menambah sensasi kamu dalam bercinta.
Silahkan download dibawah ini.
- film Bokep romantis indonesia part 3 .3gp
-Tekan-betul-betul .3gp
-Sma bergiliran .3gp
-ml Sma .3gp
-Sma bergiliran .3gp
-Sma HOT .3gp
-Sma toket gede .3gp Selengkapnya...

Beberapa video skandal mesum para siswi yg beredar di internet:
1. Video siswa siswi 3gp
2. Video skandal banten 3gp
3. Aksi siswi SMU di VIP 3gp Selengkapnya...

Nah ini sekedar tambahan koleksi video bokep lokal dari abg sma dan ada juga seks pertama kali..

- Video Bokep SMA 3gp

Download disini

- Cewek bokep pecah perawan 3gp

Download disini

- Cewek cantik ngentot 3gp

download disini

Selengkapnya...

Uhhh…ahh…auuww…amoy ini emang boleh tahan kalo urusan ngentot mengentot.
Wajah yang cantik bikin pria tambah nafsu genjotannya..
Video bokep ngentotnya bisa kamu download gratis dengan mengklik gambar iconnya dibawah ini.


Download disini

Selengkapnya...

video bokep cewek bule ngentot,Download video bokepnya dengan mengklik 

download disini

Selengkapnya...

Koleksi gratis video bokep dari amoy, cewek cina yang sedang ngentot di hotel.
Wuahhh….bikin horny banget.
Download film bokepnya dengan mengklik gambar bokep dibawah ini.

 

Download disini 

Selengkapnya...

Ada yang nggak kenal maria ozawa?
Dalam dunia perbokepan, artis bokep jepang satu ini termasuk top ranking.
Pengen nambah koleksi video bokep Maria Ozawa? Silahkan download dengan mengklik gambar episode maria yang sedang ngentot dibawah ini.


Download 

kalau anda mengalami error hubungi kami

Selengkapnya...

Video skandal dari Kades dengan seorang siswi anak sekolah

Video dapat didownload di Sini 

Selengkapnya...

Pertengahan bulan April yang lalu, kami mendapatkan seorang pembantu baru bernama Titin, seorang gadis Sunda berumur 15 tahun, berwajah bulat dan manis dan sangat kekanak-kanakan, rambut sebahu dan berkulit putih, bertubuh mungil, sangat seksi dengan kedua buah dada yang ranum untuk gadis seusianya. Ia bercerita kalau dia terdampar ke Jakarta karena melarikan diri dari rumahnya di kampung saat hendak dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki tua yang telah beristeri, sedangkan saat itu ia sudah menjalin hubungan serius dengan pacarnya. Oleh salah satu kenalannya dari kampung, yang empunya yayasan penyalur tenaga kerja ia ditampung sebagai tenaga kerja pembantu.

Dalam minggu pertama kehadirannya di rumah kami, Titin bekerja dengan rajin, tetapi karena umurnya yang masih muda, ia masih sangat bersifat kekanakan dan manja. Titin senang berpakaian baju kaos terusan model daster, sehingga tubuhnya yang mungil dan padat tercetak dengan jelas pada pakaiannya itu. Aku sangat bernafsu sekali melihat Titin dalam keadaan seperti itu, terutama bila ia mencuci pakaian, dan kaos yang dipakainya tersiram air sehingga basah. Penisku langsung menegang dengan keras, ingin rasanya langsung memeluk dan meremas-remas tubuhnya yang bagus itu. Sesekali aku dengan halus berusaha menyenggol pinggulnya atau payudaranya bila berpapasan seakan-akan tidak sengaja, Titin biasanya diam dan senyum-senyum saja. Aku terus berusaha mencari akal untuk bagaimana caranya bisa menikmati dan menggeluti tubuh Titin yang ranum itu. Sampai satu hari, aku menemukan persediaan obat-obatan di lemari dan di situ terdapat sejumlah obat tidur.

Aku melirik ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Aku melirik lagi ke arah istriku, yang terbaring dengan nyenyak di sisiku. Ia telah tertidur sekitar setengah jam yang lalu, dan aku memang menunggu saat ini untuk meyakinkan bahwa tidurnya benar-benar nyenyak.

Saat aku telah yakin benar bahwa isteriku telah tidur nyenyak, karena aku tahu persis kalau ia sudah tidur, akan sangat susah sekali untuk membangunkannya, apalagi ditambah minum susu kocok yang dibubuhi obat tidur. Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Aku mengambil sehelai handuk kecil serta membasahinya dengan air hangat serta kemudian keluar dari situ dengan tidak lupa mengambil handuk, tidak lupa sayapun membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.

Aku berjalan langsung ke kamar Titin, tempat di mana ia tidur dan saat ini ia tidur dengan pulas sekali, aku tahu demikian karena iapun meminum segelas susu kocok bercampur obat tidur sebagaimana isteriku. Pelan-pelan aku membuka pintu kamarnya dan setelah mataku terbiasa dengan cahaya kamar Titin, aku dapat melihat badannya yang terbaring di dipan. Titin tidur tanpa mengenakan pakaiannya, mungkin karena kamar yang agak panas, ia hanya mengenakan celana dalamnya saja. Payudaranya yang montok tampak menyembul dengan indahnya, dengan puting yang mencuat kecil kemerah-merahan. Rambutnya tergerai dan dibalik celana dalamnya yang tipis terbayang rambut-rambut vaginanya yang tipis. Aku berdiri memperhatikannya, bibirnya yang manis mengeluarkan napas dalam tidurnya yang nyenyak. Benar-benar gadis 15 tahun yang menggairahkan. Aku menaruh handuk kecil dan handuk besar di kaki tempat tidur, kemudian aku menyentuh pipinya, Titin tidak bereaksi sedikitpun terhadap sentuhan itu, aku mengulum bibirnya serta meremas dengan pelan kedua buah payudaranya bergantian. Ooh, kulitnya halus sekali, sungguh nikmat meremas payudara Titin ini. Aku mengangkat badannya dan mendekatkan kepada pinggiran tempat tidur, sehingga kakinya tergantung pada pinggir tempat tidur tersebut. Celana dalamnya kulepaskan perlahan.

Titin bergerak untuk berbalik, tetapi aku menahannya pada pinggulnya yang bulat. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya yang mulus dan mencium vaginanya yang kecil, ooh.., nikmat sekali. Sesekali kusapukan lidahku pada clitorisnya, kemudian clitorisnya kukulum-kulum dengan bibir dan memainkan lidahku untuk menjilat-jilatnya, pinggul Titin bergelinjang dan kakinya secara refleks menjepit kepalaku. Pelan-pelan aku mengangkat kedua belah kakinya sehingga kedua kaki Titin terlipat dan kedua lututnya menempel pada payudaranya yang ranum dan kedua telapaknya bertumpu pada pantatnya yang bulat. Dengan perlahan aku mulai menindih Titin dan menahan agar ia jangan bergerak sehingga posisinya berubah. Penisku yang sudah sangat tegang langsung kuarahkan ke vagina kecilnya yang sudah menanti. Benar-benar gerakan yang susah sekali mengingat Titin tetap tertidur dan tidak memberikan gerakan bantuan kepadaku.

Aku menekan ujung penis yang sudah benar-benar keras ke arah kedua belah bibir vagina Titin dan menggosok-gosokan terus berulang-ulang sehingga cairan mulai membasahi vaginanya. Aku mengisap-isap payudaranya yang ranum dan tetap menggosok-gosokan ujung penisku ke vaginanya untuk mempersiapkan vagina Titin menyambut penisku yang besar ini. Aku menekan penisku pelan-pelan sehingga sepertiga dari penisku mulai amblas ke dalam vagina Titin yang sempit. Aku berhenti sebentar untuk merasakan kehangatan, licinnya cairan dan cengkeraman liang vagina Titin pada penisku nikmat sekali. Aku menekan terus ke dalam liang vaginanya.., aduuh.., hangatnya.., nikmat.

Setelah penisku masuk setengahnya ke dalam vagina Titin, baru kusadari bahwa vagina Titin ini sangat sempit sekali. sungguh ketat otot-otot vaginanya mencengkeram penisku, aku menekan lagi dengan keras sampai penisku terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Titin sambil menahan nikmat yang dihasilkan oleh vaginanya yang mulai berdenyut-denyut meremas penisku. Aku benar-benar tidak dapat menahan kenikmatan yang begitu nikmat akibat denyutan dan remasan vagina Titin ini, aku langsung menarik penisku dengan cepat sehingga tinggal kepala penisku saja di dalam vaginanya kemudian secara cepat dan keras kubenamkan lagi, begitu berulang-ulang secara perlahan-lahan, aku merasakan bahwa otot-otot vagina Titin mengejang dan memberi cengkreaman yang keras kepada penisku yang besar. Setelah beberapa saat aku diam untuk menikmati kenikmatan vagina ini, aku mulai lagi untuk menarik dan menggenjot masuk penisku, kuulangi lagi gerakan ini berulang-ulang, masuk.., keluar.., tarik.., tekan.., tarik.., tekan dalam-dalam. Aku benar-benar bernafsu sekali kepada Titin, apalagi saat aku menekan dan menarik, kedua payudaranya berayun-ayun bagai mengikuti irama gerakanku.

Aku merasa bahwa aku sudah mau sampai puncak orgasme, biarpun aku mau keadaan ini tetap berlangsung terus, tetapi aku harus cepat-cepat mengakhiri ini kalau tidak mau tertangkap basah, biarpun Titin dan isteriku sudah terkena pengaruh obat tidur. Bahaya ketahuan tetaplah bahaya yang besar bagiku.

Akhirnya, aku merangkul badannya yang mungil melewati kedua belah kakinya yang terlipat, aku pertemukan kedua tanganku di belakang punggung Titin dan memeluknya erat sekali ke badanku, kemudian aku memutar pinggulku sambil tetap menekan ke arah vaginanya sehingga aku bisa menanamkan penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Titin sampai penisku terasa menyentuh liang peranakannya. Aku benar-benar tidak pernah merasakan hal seperti ini, mungkin hal ini terjadi karena perbedaan ukuran tubuh dan penisku yang besar dibanding tubuh Titin yang begitu mungil. Aku menekan terus, kemudian menarik penisku lagi dan menekan lagi dengan keras dan cepat, sehingga terasa tubuhnya bagaikan orang yang menggigil dan cengkeraman vaginanya terasa semakin memuntir batang penisku, benar-benar nikmat dan nikmat sekali, Tanpa terasa aku menggigit payudaranya yang kanan dengan gigiku. Saat aku menekan batang penisku dalam-dalam ke liang vaginanya, sampailah aku kepuncak kenikmatan bersetubuh, penisku mengeluarkan cairan mani yang menyemprot masuk ke dalam liang vagina Titin dalam-dalam. Aku tetap menekan terus dan tidak melepaskan batang penisku dari dalam vaginanya sampai aku tidak merasakan lagi denyutan-denyutan yang mencengkram. Begitu aku mencabut batang penisku, aku langsung menggosok-gosokan ke bibir vaginanya yang kecil itu sebelum aku mengambil handuk basah untuk mengelapnya.

Aku langsung membersihkan badan Titin dengan handuk lembab untuk menghapus segala tanda-tanda persetubuhan yang terjadi dan memakaikan celana dalamnya lagi serta mengatur tubuhnya dengan rapi di tempat tidur. Tanpa membersihkan diri lagi langsung saja aku menaruh handuk-handuk tersebut ke tempat cucian dan kemudian kembali ke kamarku.

Esok pagi, aku bangun agak terlambat, isteriku sudah pergi ke kantor duluan, saat aku ke belakang menuju kamar mandi, tampak Titin sedang duduk termanggu-manggu melamun di atas sebuah bangku kecil di tempat cucian.
"Ada apa, Tin.., kok pagi-pagi ngelamun siih", sapaku.
"Aakh.., nggak.., anu Pak..", jawabnya.
"Anu.., apanya", kataku lagi.
"Itu.., tadi malem Titin mimpi.., kok.., aneeh bener", jawabnya senyum-senyum.
Waktu melewati Titin, aku menengok ke arah belahan payudaranya yang terlihat dari sela-sela daster kaosnya, tampak sekilas di atas payudaranya yang sebelah kanan bekas gigitan yang memerah.., Waahh.

Tamat



Selengkapnya...

Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun. Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang, berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm, badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan payudara yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.

Hari pertama kedatangannya, saat memperkenalkan diri, ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, "Akh, nakal juga nih..". Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah. Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan, dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.

Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus di balik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada di bawah pintu tersebut.

"Hah..", saya kaget juga, karena di situ terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang menjinjit menempel di pintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip, oleh siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi, saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian penis saya, meremas-remas sehingga penis saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus mengocok penis saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara di belakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
"Naah.., lo.., rasain ", kata saya dalam hati.

Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, penis saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan ke arah belakang untuk menaruh pakaian kotor.
"Pep.., Pak.., Bapak mau emm.., makan", sapa Atun,
"Oh.., nggak Tun, sudah makan.., tolong bikinkan kopi saja", jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
"Eeh.., kamu kenapa Tun.., sakit yaa?", tanya saya
"Ah, tidak Pak.., Saya cuma sedikit pusing aja", jawab Atun
"Iyaa.., Tun.., Saya juga sedikit pusing.., apa kamu bisa mijitin kepala Saya".
"Beb.., bis.., bisa Pak", jawab Atun tergagap, sambil matanya terus-menerus melirik ke arah penis saya yang menyembul. Sayapun masuk ke kamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya, setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk di sofa depan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja di depan saya.
"Tun.., tolong nyalakan TV-nya"

Atun berjalan ke arah televisi untuk menyalakan, saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun dari balik dasternya. "Wah.., boleh juga", terasa denyutan di penis saya, nafsu saya mulai memuncak.
"Tun.., tolong kecilkan sedikit suaranya", kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol TV tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali, Atun ternyata tidak memakai BH dan puting susunya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.
"Lagi sedikit Tun..", kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh, denyutan di penis saya pun makin keras saja.
"Ayo.., Tun.., pijitin kepala Saya", kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
"Nah.., gitu.., baru nikmat, kata saya lagi, tapi filmnya kok jelek banget yaa.."
"Iya.., Pak.., filmnya film tua..", katanya.
"Kamu mau lihat film baru", kata saya sambil langsung berdiri dan menuju ke arah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba penis lawan mainnya, tangan Atun mengejang di kepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat ke arah Atun, terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker.

Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan di kepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru-memburu. Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya. Saya langsung saja berdiri dan menuju ke belakangnya, sarung saya jatuhkan ke lantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan penis saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak ke arah payudaranya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.

Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas, Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan penis saya ke lubang vaginanya. Saat kepala penis saya mulai memasuki vaginanya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga penis saya terbenam seluruhnya.

"Aakh.., Pak", desah Atun lirih, "Ennaak.., Paak".
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik penis saya. Waah.., vagina Atun bagaikan menjepit penis saya dan seperti tidak mau melepaskan penis saya. Vagina Atun ternyata sempit sekali dan penis saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak.., plak.., plak.., saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di payudaranya sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun. Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya, matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh, dari pinggang ke atas condong ke depan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan penis saya untuk membenamkannya lebih dalam ke lubang vaginanya, Atun segera mendorong pantatnya ke belakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian.
Aah.., Atun ternyata luar biasa enaknya vaginamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan vagina Atun.

Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang, kedua kakinya juga mengejang serta terangkat kebelakang. Vaginanya meremas dan menghisap-hisap penis saya dengan keras dan berusaha untuk menelan penis saya seluruhnya.
"aahh..", desah Atun panjang.
Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan penis saya kuat-kuat ke dalam vagina Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya ke dalam lubang vagina Atun yang begitu hangat dan menghisap.
"Heehh", creet.., creett..,. Creett. Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk ke arah sandaran sofa dengan posisi penis saya masih ada di dalam jepitan vagina Atun.

Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan ke arah belakang, Atun langsung berbelok ke kamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, "Terima kasih yaa.., Pak", dan sambil tersenyum nakal ia meremas penis saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas.

Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus penis saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Loo..", pikir saya "Kok isteri saya tidak bekerja hari ini".
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah. Lho.., ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus penis saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium penis saya, yang sudah keras dan tegang.
"Tun.., ayo naik ke sini", kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa di balik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium vaginanya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum penis saya di mulutnya yang kecil Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya. Saya mulai menjilat-jilat vaginanya dan sesekali mengulum serta mempermainkan clitorisnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya.
"Heeh.., heehh". Dari lubang vaginanya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat.., mmh.., enaknya. Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap telentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang vaginanya yang sempit itu tepat ke arah batang penis saya yang sudah sangat tegang sekali.

"Heehh".., cleep, batang penis saya masuk langsung ke dalam lubang vaginanya dan terbenam sampai ke ujung biji saya, "oohh nikmat bener Tun vagina kamu", kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan. Batang penis saya terasa mau putus karena enaknya vagina Atun, benar-benar nikmat sekali permainan di pagi hari ini. Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas payudaranya yang keras.
"ooh.., Atun.., ennaak", Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, vaginanya tetap menjepit batang penis saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut. Akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang penis saya sedalam-dalamnya di lubang vagina Atun, badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme.

Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Atun, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada dirumah.

Tamat



Selengkapnya...

Aku sudah berumah tangga dan mempunyai seorang anak, semuanya berubah setelah perkawinan kami. Aku dan istriku menjadi lebih dewasa dan matang, juga lebih santai dalam menjalani kehidupan ini. Tapi ada satu yang tidak berubah dalam diriku yaitu nafsu seks yang menggebu-gebu. Awal perkawinan, istriku sampai terampun-ampun melayani nafsuku, lama-lama dia menyerah juga dan kami membuat kesepakatan, yaitu dia mengijinkanku untuk mencari vagina di luaran asal vagina itu dibeli bukan dipelihara. Aku sih setuju saja, kapan lagi? Lama-lama bosan juga aku dengan pelacur yang umumnya sudah kutahu gayanya, pelan-pelan aku bisa membendung nafsuku dan lebih banyak tinggal di rumah, sementara istriku sibuk dengan karirnya yang semakin menanjak, sebentar-sebentar ke luar kota, sedangkan anak kami diserahkan ke rumah orang tua kami, karena mereka memaksa untuk mengasuh sampai umur 10 tahun. Setiap minggu kami mengunjungi anak kami dan bermain-main dengannya. Anakku baru umur 2 tahun.

Suatu hari sepulang dari kantor aku terkejut melihat seorang wanita di rumah, sedangkan istriku sedang pergi. Aku baru teringat istriku tadi pagi menelepon dari luar kota, bahwa nanti ada pembantu baru untuk rumah kami. Ternyata ini nih, wah boleh juga nih pembokat. Dia memperkenalkan dirinya bernama Inah, asal dari Jawa Timur. Kuperhatikan sewaktu dia menyiapkan meja makan. Umurnya kurang lebih 32 tahunan, tubuhnya alamak bahenol banget, semuanya kelihatan kencang, dia memakai rok yang sepertinya pemberian orang, sebab kekecilan sehingga pantatnya yang bahenol menyembul kencang, begitu juga dengan blousenya yang kekecilan sehingga payudaranya yang sangat besar seolah-olah mau meloncat keluar.

Kuperhatikan wajahnya, wah wajah yang penuh nafsu juga nih, bukannya sok tahu wajahnya sih biasa saja, cuma raut wajahnya seperti perek-perek yang pernah kugumuli. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya, aku segera masuk ke kamar menukar pakaian, kulihat penisku sudah berdiri dengan kencang. Wah minta dilemasin nih.
"Pak.., makanan sudah saya siapkan di meja", tiba-tiba dia berbicara dari balik pintu kamar.
Aku mengiyakan. Lalu aku keluar untuk makan siang. Dia berjalan menuju ke belakang, mungkin mau mencuci atau apalah. Setelah makan aku heran kok tidak ada suara apa-apa dari belakang. Aku berjalan ke belakang menuju area service, kudekati kamar mandi pembantu, tidak ada suara, kudekati kamar pembantu, juga dia tidak ada. Mungkin turun kegarasi kali, pikirku. Aku kembali melewati kamar mandinya, sekilas mataku melihat seonggok pakaianku di sudut dekat pintu, tapi ada seonggok lagi dekat bak mandi.

Tiba-tiba aku ingat temanku pernah bilang bahwa vagina pembantu baunya nikmat, soalnya jarang kemasukan penis, waktu itu aku cuma tertawa, temanku bilang menyetubuhi pembantu lebih nikmat, soalnya vaginanya bisa dijilat-jilat tanpa takut kena penyakit. Aku jadi curious juga nih, aku berjalan masuk mendekati pakaian yang teronggok dekat bak, lalu kuambil BH-nya, kecil banget nih BH, pantas saja payudara sepertinya mau loncat, tercium bau khas pembantu, terangsang juga aku, kucium BH-nya, memang nikmat juga baunya. Lalu kuraih CD-nya, tercium bau vagina dan bau pesing, ada noda-noda di bagian tutup vaginanya, kuperhatikan ternyata lendir yang agak encer, kucium celana itu, baunya memang lain, lebih nikmat. Sialan juga temanku itu, ternyata dia benar!, penisku sudah kencang sekali.

"Mau diapain celana dalam saya Pak?", Rasanya seperti tersambar geledek. Tiba-tiba Inah sudah di belakangku sambil memandang tanganku yang menggenggam CD-nya. Aku benar-benar mati kutu.
"Inah akan lapor pada Ibu apa yang Bapak lakukan di sini", Mati gua!! perek mah biasa, tapi pembantu? Istriku bisa ngamuk besar nih.
"Jangan dong In.., Saya akan keluar sekarang juga, anggap saja tidak ada apa-apa yang terjadi di sini", Aku melangkah ke pintu, tapi Inah tidak beranjak, tangannya menghalangiku. Dia memandangku.
"Tidak begitu gampang, Pak. Kalau tidak mau Inah laporin, berarti Bapak harus Inah hukum", Wah.., ngelunjak nih pembantu. Tapi kalau dilaporin mati beneran deh.., malunya itu.
"Apa hukumannya? Gaji kamu minta dinaikkan?", Aku bertanya. Inah menggeleng.
"Turuti semua perintah Inah, itu hukumannya" Dia berkata tegas. Aku melongo, tapi akhirnya aku mengangguk juga. Kalau tidak begitu nggak beres-beres urusan ini.
"Bapak harus buka semua baju Bapak, Inah mau lihat berapa besar sih penis Bapak, apakah sesuai dengan keberanian Bapak atau tidak", Perintahnya.
Itu sih encer, segera kulepaskan pakaianku sampai telanjang bulat, penisku memang tidak besar sekali, tapi sudah tegang sekali. Inah menjilat bibir atasnya sambil memandang penisku.

"Sekarang ambil celana dalam Inah, terus jilatin lendir yang ada di sana sampai bersih, harus diisap-isap ya", Katanya, aku terdiam, pelan-pelan kuambil CD-nya.
"Cepat! Inah mau lihat hasil jilatan Bapak", tiba-tiba tangannya mencengkaram penisku dan meremas serta menekuknya, Aduh, sakit juga rasanya. Cepat-cepat kujilat cairan yang menempel di CD-nya dan kuhisap semua lendirnya. Inah terus mengocok penisku dengan kasar. Lalu dia melepaskan blouse serta roknya, sehingga terlihat dia cuma memakai CD yang berwarna putih dan BH warna hitam. Tubuhnya betul-betul aduhai, serba kencang dan harum. Kulihat ketiaknya penuh dengan bulu yang lebat. Aku menelan ludah. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya ke atas, aku meremas-remas buah dadanya, kucoba untuk melepaskan BH-nya, tapi dia melarang, belum waktunya, katanya.
Sialan, tangannya terus mengocok penisku, aku tak mau kalah, kuremas payudaranya yang besar itu dengan sekuat tenaga, dia berkelojotan sambil merintih dan mendesis, wah pemain kasar rupanya.

Tiba-tiba tangannya menjambak rambutku lalu menarik kepalaku menuju ketiaknya.
"Jilat yang bersih", desisnya. Ketiaknya berbau khas, wah segera saja kujilat dan kucium-cium kedua ketiaknya, Inah terus merintih, lalu satu tangannya di masukkan ke dalam celana dalamnya, aku tak tahu apa yang dia mau. Lalu dikeluarkan lagi, kulihat jari telunjuk dan jari tengahnya penuh dengan lendir, lalu di masukan tangannya ke dalam mulutku, segera kujilat habis lendir yang baunya nikmat itu.

Sekarang wajahku ditarik menuju buah dadanya, wah mukaku seperti hilang di sana. Hangat dan berbau nikmat.
"Buka BH Inah pakai mulut, tidak boleh pakai tangan", desisnya, aku jadi curiga nih pembokat kebanyakan nonton BF atau bekas perek? Setelah BH-nya lepas, tampak payudara yang betul-betul besar tapi kencang sekali, mungkin karena sebagai pembantu waktu ngepel atau nyuci otomatis otot-otot dadanya terlatih dengan baik. Putingnya besar juga, berwarna merah tua. Kujilat-jilat puting itu, kuhisap-hisap sambil meremas kencang, Inah merintih tidak karuan sambil menjambak rambutku, sebentar-sebentar tangannya yang penuh lendir di masukan lagi ke mulutku. Lalu kulihat dia memasukan lagi tangannya ke dalam CD-nya, lalu di masukkan tangan yang penuh lendir itu ke dalam mulutnya sambil menarik wajahku, lalu kami bersama-sama menikmati lendir itu. Aku mencoba memasukkan tanganku ke dalam CD-nya tapi selalu ditepis, sambil berkata belum waktunya.

Sekarang kepalaku ditarik menuju vaginanya, otomatis aku jadi berjongkok sementara dia berdiri. Inah menaikkan sebelah kakinya ke atas bak, lalu mulai menggosok-gosokkan vaginanya yang masih ditutupi CD itu ke wajahku sambil mengerang-erang.
"Hisap vagina Inah, buka celana Inah pakai mulut, Pak", kuturuti apa yang dimintanya.
Setelah celana dalamnya bersih kujilat, lalu kutarik dengan gigiku sampai ketelapak kakinya. Tiba-tiba dia memasukkan jempol kakinya ke dalam mulutku dan menyuruhku mengemutnya. Kuturuti lagi, soalnya nafsuku juga sedang memuncak hebat dengan cara-cara yang baru seperti ini. Aku kembali naik menuju vaginanya, dia menyurukkan kepalaku di sela-sela pahanya dan menjepitnya di sana. Tercium bau vagina yang nikmat sekali, ini dia yang diceritakan oleh temanku itu. Memang baunya eksotis sekali.
"Jilat dan hisap sampai bersih semua lendir Inah, Pak", kumasukkan lidahku sedalam mungkin ke lubang vaginanya, dia menjerit-jerit sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya, sebentar kemudian tubuhnya berkelojotan sambil menjerit keras, kurasakan cairan hangat mengalir masuk ke dalam mulutku, rasanya asin dan baunya dashyat. Kusedot habis semuanya sementara Inah menggosokkan clitorisnya ke hidungku dan tak lama kemudian hidungku digosokin, aku diam saja sementara dia mengerang-erang, dan entah berapa kali dia mencapai klimaks.

"Bapak tiduran di lantai", Inah kembali menunjukkan kekuasaannya. Aku telentang di lantai, lalu Inah jongkok tepat di atas wajahku, wajahnya menghadap ke depan. Vaginanya tepat di atas hidungku, lalu kembali dia memasukkan lubang vaginanya yang sudah merah itu ke dalam hidungku yang penuh lendirnya.
"Jilat lubang pantat Ina, Pak" Kulihat dia mengeden, dan lubang pantatnya terbuka sedikit, segera kujilat-jilat lubang pantat yang berwarna merah tua itu. Tubuhnya bergetar sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan di atas wajahku. Tak lama kemudian dari lubang vaginanya mengalir lagi cairan kenikmatan diiringi erangannya. Sekarang dia berputar sehingga lubang pantatnya persis di hidungku sementara vaginanya tenggelam dalam mulutku, kubuat dia menjerit untuk kesekian kalinya.

Tiba-tiba Inah terdiam, tubuhnya tegang, lalu kurasakan cairan panas menyembur ke wajah dan mulutku, ternyata air pipis. Inah pipis di mulutku! Sialan.
"Minum pipis Inah", Kujilat-jilat air kencingnya yang asin. Sementara mulutnya mengemut penisku dengan ganas sekali. Aku tak dapat bertahan lama, waktu mau keluar Inah menyuruhku duduk di atas wajahnya. Kusetubuhi mulutnya, sebentar-sebentar lepas sehingga hidungnya yang jadi sasaran, Wajahnya sudah penuh dengan lendirku. Tiba-tiba aku mengerang keras, penisku menyembur-nyembur dashyat di dalam mulutnya. Dengan lahap dan ganas perempuan itu menelan air maniku yang banyak sekali, sebagian mengalir keluar ke hidungnya. Lalu Inah menjilat-jilat lubang pantatku, nafsuku segera bangkit, kutempelkan lubang pantatku dihidungnya lalu kugosok-gosokkan disana, sementara penisku dikocok-kocok terus supaya tegang. Aku meneruskan tugasku di lubang vagina dan pantatnya.
"Inah mau minum air pipis Bapak", Kulihat Inah melepaskan jilatan di lubang pantatku dan menyuruhku pipis. Ketika air kencingku mau keluar, Inah segera memasukkan penisku ke dalam mulutnya, lalu menyemburlah air kencingku yang panas di dalam mulutnya, Inah terbatuk-batuk tapi terus meminum air kencingku dengan lahap, seluruh wajahnya sudah basah oleh air kencingku. Kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Dia merintih-rintih, tak lama kemudian penisku mulai tegang akibat hisapan Inah.

Dia menjilat-jilat sisa air maniku. Lalu dia menuntun penisku menuju lubang vaginanya. Segera kutusuk dengan kasar lubang sempit itu. Dia menjerit kenikmatan waktu penisku masuk ke dalam semua. Lalu mulailah genjotan demi genjotan. Kulihat lubang vaginanya sudah basah dan berbusa karena lendirku dan lendirnya. Kadang-kadang dia menyuruhku mencabut lalu dijilatinya lendir di penisku sampai bersih, baru kutusuk lagi.

Sementara mulutku menghisap puting susunya, kadang-kadang kujilat ketiaknya yang berbulu lebat. Setiap kali mau keluar dia menyuruhku memasukkan lidahku menggantikan penisku di dalam vaginanya.
"Bapak kok nggak keluar-keluar lagi sih?, Masukin aja ke lubang pantat Inah Pak, di situ lebih sempit". Kucoba memasukkan ke lubang pantatnya, sempit banget, tapi akhirnya masuk juga, tapi diiringi teriakan Inah yang kesakitan, tangannya menggaruk-garuk punggungku, tapi sebentar kemudian rintihan mulai keluar dari mulutnya. Setelah kugenjot beberapa kali, kurasakan penisku mau menyembur lagi, Inah cepat menyuruhku memasukkan ke dalam mulutnya, lalu kusetubuhi lagi mulutnya, sambil kujilati lubang pantatnya yang sudah melebar.

"Inah, Bapak udah mau keluar nih" Aku mendesis. Inah segera berbalik sehingga aku di bawah. Lubang pantatnya masuk ke dalam hidungku, sementara lidahku menjalar ke dalam vaginanya. Dan kami sama-sama menjerit keras, waktu aku menyemburkan air maniku, sedangkan Inah mengeluarkan cairan hangat lagi.
Kubersihkan lubang vagina dan pantatnya lalu kami mandi bersama. Betul-betul pengalaman yang dashyat untukku. Sejak itu aku lebih memberi semangat pada istriku kalau mau keluar kota.

Tamat



Selengkapnya...

Beberapa waktu yang lalu, karena telah berulang kali dipanggil oleh anaknya di kampung, maka pembantu kami yang sudah tua, Mbok Iyem akhirnya pulang juga ke kampungnya di Jawa Tengah, tetapi sebelum pulang ia berjanji akan membantu kami untuk mencarikan seorang pembantu lain yang berasal dari kampungnya juga, jadi pada saat Mbok Iyem pulang kampung, tidak terjadi kekosongan pembantu di rumah kami. Hal ini penting bagi kami, karena kami berdua, suami isteri bekerja sehingga kami memerlukan seorang pembantu untuk beres-beres di rumah.

Pada hari yang telah ditentukan, maka datanglah seorang pembantu baru yang dijanjikan oleh Mbok Iyem, yaitu seorang gadis kampung yang telah putus sekolah, berumur 18 tahun bernama Lastri. Sulastri bertubuh sedang dengan kulit bersih dan berambut panjang, yang dengan malu-malu memperkenalkan dirinya kepada kami, setelah menerima instruksi ini itu dari isteriku, Lastri pun mulai bersiap untuk kerja.

Memasuki hari Senin, secara kebetulan saya mendapat cuti kantor selama tiga hari, yang mana bisa saya pergunakan untuk beristirahat di rumah. Setelah isteriku berangkat kerja, sayapun santai di rumah sambil baca koran dan mendengarkan radio, sedang Lastri sibuk membersihkan rumah sehabis mencuci pakaian.
Sedang saya asyik membaca, tiba-tiba dikejutkan oleh sapaannya, "Maaf Pak.., Saya mau mengepel lantainya".
"Oh iya, pel aja..", kata saya sambil terus membaca, tetapi mataku memperhatikan pembantu ini dengan lebih seksama. Lastri mengepel lantai sambil berjongkok dan sesekali merangkak sambil terus mengayunkan tangannya. Saat ia merangkak, terlihat pinggulnya yang besar dengan pantat yang membentuk bulat bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan irama yang teratur, celana dalam yang dipakainya terbayang sangat jelas dari balik daster yang dipakainya. Saat ia berbalik untuk mengepel di bawah kaki saya, terlihat dari belahan dasternya dua buah bukit yang ranum, terbungkus oleh kutang ketat, yang kelihatannya sudah agak kekecilan. Tanpa terasa saya menggosok batang kemaluanku, yang tiba-tiba menjadi tegang. Konsentrasi saya untuk membaca menjadi hilang.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lastri bersiap-siap untuk membersihkan dirinya dan mengambil handuk serta masuk ke kamar mandi, begitu terdengar suara air yang terguyur di kamar mandi, saya cepat-cepat meloncat bangun dan berjalan cepat-cepat ke arah kamar mandi. Dari sela-sela pintu kamar mandi terdapat celah yang bisa dipakai untuk mengintip ke dalam. Ternyata pemandangan di dalam kamar mandi begitu asyiknya, Sulastri ternyata mempunyai badan yang bersih mulus dengan kedua payudaranya yang ranum keras dengan puting yang mengarah ke atas berwarna coklat muda, pinggulnya yang besar sangat seksi dengan bulu-bulu halus di atas kemaluannya. Lastri sibuk menggosok-gosok badannya tanpa sadar ada mata yang sedang menikmati tubuhnya yang ranum. Dengan berdebar saya terus mengintip Lastri yang sesekali menunduk untuk menggosok kakinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Nafsu saya naik ke kepala, saya mulai mengelus batang kemaluanku sampai tegang. "Aah, enaknya kalau bisa memeluk dan menancapkan batang penisku di vaginanya".
Sedang asyik mengintip, saya teringat kalau di lemari saya masih ada menyimpan sebotol obat perangsang bermerek 'Spanish fly' oleh-oleh teman dari luar negeri. Cepat-cepat saya ke kamar mengambil obat tersebut dan membawanya ke dapur, dan benar saja dugaanku bahwa Lastri memang sudah menyiapkan teh hangat bagi dirinya sendiri di situ. Segera saya tuangkan spanish fly itu ke dalam minuman Sulastri dan saya tambahkan gula sedikit agar dia tidak curiga.

Saya kembali duduk di kursi depan dan pura-pura membaca sambil membayangkan tubuh mulus Lastri sambil mengelus batang penisku yang sudah tegang, saya benar-benar sudah bernafsu sekali untuk menyetubuhi Lastri. Sekitar setengah jam kemudian, saya mendengar erangan halus yang berasal dari kamar Sulastri, "Heehh.., heehh".
Segera saya menghampiri kamarnya dan pura-pura bertanya, " Lastri.., ada apa dengan kamu..?".
Lastri sambil mengeluh menjawab, "Aduuh Pak.., perut Saya.., hheehh".
"Kenapa..?", sambil bertanya saya segera saja masuk ke dalam kamarnya, Lastri kelihatan pucat dan keningnya berkeringat, sedang dalam posisi merangkak sambil memegang perutnya.
"Aduuh.., aduuh.., perut saya.., Pak".
"Mari Saya tolong..", kata saya, sambil berdiri di belakangnya dan tunduk serta memegang perutnya dengan kedua tangan untuk mengangkatnya berdiri. Saat berdiri sambil memeluknya dari belakang, penisku yang sudah tegang dari tadi menempel pada celah pantatnya, Lastri agak kaget juga, tapi ternyata dia diam saja sambil terus mendesah.
"Ayo saya gosok perut kamu.., biar hangat", kata saya sambil tangan kananku terus bergerak menggosok perutnya sedangkan tangan kiriku mengangkat dasternya dari bawah. Saya memasukkan tangan kiriku ke dalam daster itu dan berpura-pura akan menggosok perutnya juga tapi saya segera menurunkan tangan saya untuk menyibakkan celana dalamnya dan mulai meraba bulu-bulu halus yang bertebaran di sekitar vaginanya. Saat tangan saya menyentuh vaginanya, Lastri menggelinjang keras dan mendesah panjang, "aah.., Paak..", seraya menekankan pantatnya yang montok ke penisku yang sudah menanti dengan tidak sabar. Tangan kananku pun mulai masuk ke dalam sela-sela kancing daster, naik terus ke atas dan menemukan payudaranya yang ranum, yang ternyata tidak terbungkus oleh kutangnya, segera saya meremas payudaranya.
"Las,.., ayo Saya gosok sambil tiduran", kata saya.
"Hee.. Eeh", katanya.
Saya tuntun Lastri ke tempat tidur dan membaringkannya dengan kedua kakinya tetap terjuntai di lantai. Secara cepat saya menyibak dasternya dan segera menarik turun hingga celana dalamnya terlepas. "Aduuh.., Paak", katanya sambil menggerakkan pinggulnya.
"sst..", kata saya sambil menundukkan kepala dan mencium vaginanya yang persis di depan mataku.
"aarkkh..", seru Lastri sambil membuka kakinya lebih lebar lagi dan kemudian secara cepat menutupnya lagi sehingga kepalaku terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Saya mulai menjilat vaginanya, lidahku mulai menjalar ke kanan dan ke kiri menyibakkan kedua belah bibir vagina Lastri sampai akhirnya saya menemukan clitorisnya. Kedua tangankupun secara gencar mulai bergerilya meremas kedua payudaranya sambil sesekali mempermainkan putingnya yang langsung mengeras.
"Paak..", Lastri keenakan sambil mulai menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bagaikan sangat kegelian, dan tiba-tiba dari vaginanya memancar cairan, yang segera saya jilat habis.
"Las.., buka dulu yaa bajunya", kata saya sambil berdiri dan dengan cepat mulai membuka celana dan kaosku. Sementara saya berdiri telanjang, penisku benar-benar tegang dan keras. Mata Lastri terbelalak memandang penisku yang besar dan berdiri.
"Paak.., Lastri takut", katanya.
"sstt.., nggak apa-apa Las..", kata saya sambil membantu Lastri membuka bajunya.

Karena kakinya masih menjuntai di pinggir tempat tidur, segera saya mengambil bantal dan mengganjal pantatnya sehingga vagina Lastri sekarang menyembul dengan clitorisnya yang mengkilap karena jilatan lidahku. Segera saya arahkan penisku ke lubang vaginanya dan berusaha untuk menekannya masuk, sementara tanganku meremas payudaranya sedangkan mulutku mulai memagut bibirnya. Ternyata lubang vagina Lastri sempit sekali, sehingga baru kepala penisku yang masuk, ia sudah menjerit kesakitan dan berusaha menggeliatkan badannya yang mungil. Saya menahan geliatan badannya dan terus berusaha memasukkan seluruh penisku ke vaginanya yang sempit dengan menarik keluar masuk kepala penisku. Biarpun vagina Lastri telah basah oleh cairan yang keluar dari tubuhnya, saya tetap juga mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan vagina Lastri ini. Sambil memeluk tubuhnya, mulutku bergesar ke arah telinga Lastri, dan secara tiba-tiba saya menggigit cuping telinganya dengan agak keras. Secara refleks, Lastri kaget sekali, "Aduh..", tetapi bersamaan dengan itu saya menekan penisku sekuat tenaga masuk ke dalam vaginanya. Lastri kaget dan terdiam, tetapi saya kembali memagut bibirnya dan menyedot lidahnya sambil mulai menaikkan pantatku sedikit sedikit, kemudian turun menekan sampai ke ujung. Aduh nikmatnya bukan alang-kepalang, vagina Lastri benar-benar sempit sekali bagaikan jepitan halus yang menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Setelah beberapa kali naik turun, cabut sedikit, tekan lagi.., Lastripun mulai menikmati permainan seks ini, sambil mengerang-erang, dia juga mulai menggoyangkan pinggulnya. Kedua belah kakinyapun turut menari-nari, kadang menjepit kakiku, kadang dia menjepit pinggangku.
"Aarkhh.., ppaak.., enaak", kata Lastri, sambil terus menggoyangkan pinggulnya, sehingga penisku yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras. Akhirnya sayapun tidak tahan lagi, saat badannya menjadi kejang karena dia sampai pada puncak kenikmatan, sayapun mempercepat gerakan naik turun sampai cairan maniku terasa menyembur-nyembur ke dalam vagina Lastri. Akh, kita berdua sungguh lunglai setelah tiba pada puncak kenikmatan. Ternyata setelah selesai baru saya tahu kalau ternyata Lastri masih perawan dan belum pernah dijamah oleh lelaki lain.

Selama masa cuti tiga hari, saya tetap betah di rumah. Dan kalau istriku sudah berangkat kerja, maka Lastri dan saya mulai mempraktekkan berbagai macam gaya bersetubuh. Lastri ternyata murid yang sangat pandai untuk diajar dan selalu bernafsu untuk mengulang dan mengulang lagi. Hal ini berlangsung selama enam bulan, kadang larut malam, kadang pagi hari kalau saya lagi kepingin menikmati tubuhnya, saya ijin dari kantor, sampai akhirnya Lastri dipanggil pulang oleh keluarganya untuk dikawinkan di kampung.

Tamat



Selengkapnya...

Aku ajak Meen duduk atas sofa supaya lebih selesa. Lepas duduk aku mencium bahagian leher Meen dan melondehkan tali dressnya turun dari bahu. Terserlahlah dua gunung yang belum pernah diteroka oleh mana-mana lelaki. Buah dada Meen aku rasa saiz 36-D. Putingnya berwarna merah pink dan masih segar. Aku meramas-ramas buah dada Meen sambil terus mencium setiap inci bahagian dadanya yang terdedah. Meen merengek-rengek kenikmatan sambil menggosok-gosok belakangku.

Akhirnya bibirku tiba keputingnya dan tanpa belas kesian aku menghisapnya sebab aku dah lama mengidamkannya. Jari-jemariku pula mula berani menjalar di peha Meen yang putih melepak itu. Meen mengerang kenikmatan atas tindakanku. Aku dah naik geram dan berbisik pada Meen ajak dia balik ke bilik. Meen bertanya untuk apa dan aku kata di situ tak selesa untuk bermesra. Dia setuju dan aku terus panggil waiter untuk settle bill.

Tanpa membuang masa aku tarik Meen balik ke bilikku. Meen nampak malu-malu dan gabrah. Sampai berjalan aku peluk pinggang Meen dan beritahu dia yang aku dah lama minat kat dia.. Nak bagi dia tambah cair. Sambil di bilikku, aku tanya Meen samada dia nak minuman tapi dia hanya menggelengkan kepala dan nampak resah. Aku hampiri tubuh Meen dan mendakapnya. Kami berkucupan agak lama. Aku tarik Meen ke dalam bilik air. Aku suruh Meen menanggalkan pakaianku. Dia menggelengkan kepalanya. Aku tarik tangan Meen ke butang atas bajuku dan menyuruh Meen menanggalkannya.

Perlahan-lahan Meen membuka butang kemejaku satu-persatu. Lepas aku suruh Meen menanggalkan seluarku. Dia nampak gabrah tapi menurut aja arahanku. Akhirnya seluarku melondeh ke bawah dan aku hanya tinggal berseluar dalam. Aku bawa tangan Meen ke zakarku yang sedang menegang dan menyuruhnya mengusap-usap zakarku. Lepas tu aku suruh Meen tanggalkan seluar dalamku. Meen nampak gementar semasa melondehkan seluar dalamku dan melihat zakarku yang sedang tegang dan mengembang.

Aku peluk Meen dan kami berkucupan. Aku londehkan strap baju Meen dan tanggalkan pakaiannya. Tinggallah Meen dengan G-string panty saja.. Sexy habis. Aku cium dan hisap buah dada Meen yang makin keras dan menegang. Meen mengerang kenikmatan dengan tindakanku. Sambil tu aku mengusap alur pantat Meen yang makin lencun. Aku dah tak sabar nak tengok pantat Meen. Aku tanggalkan panties Meen maka terserlahlah pantatnya yang tembam dengan bulunya yang bertrim. Meen cuba menutup pantatnya dengan kedua belah tangannya kerana malu. Aku peluk Meen dan menariknya ke shower.

Kami bershower air panas sambil terus bercumbu. Aku sabunkan setiap inci tubuh Meen dan kemudian dia pula sabunkan setiap inci tubuhku. Kami bergurau dan bergelak ketawa macam kanak-kanak. Dapatlah aku hilangkan tension Meen dan dia mula comfortable untuk berbogel bersamaku. Lepas tu kami mengelap tubuh bersama. Kami berpelukan keluar dari bilik air. Aku peluk tubuh Meen dan memberinya ciuman yang hangat. Meen membalas ciumanku dengan hangat juga. Lepas tu aku baringkan tubuh Meen di atas katil dan menindihnya. Kami bercium dengan hangat dan aku mula meraba-raba tubuh Meen kembali.

Kemudian aku mula menjilat setiap inci tubuh Meen yang begitu indah dan belum pernah diteroka lelaki itu supaya terbuka semua switch nafsunya. Aku mulakan dari tengkuk turun kedada terus kepusat dan bahagian perut. Kulitnya yang putih-merah itu sangat halus, lembut dan gebu. Kemudian aku jilat kedua-dua pasang kaki Meen yang cantik itu bermula dari hujung jari sampai ke pangkal peha. Kemudian aku balikkan Meen dan jilat bahagian belakang tubuhnya dari atas hingga kebawah. Memang sedap dapat jilat anak dara yang seorang ni.

Setelah habis menjilat, aku serang balik tengkuk Meen yang jinjang dan putih itu. Tanganku mula meramas-ramas buah dada Meen yang besar dan tegang itu. Kemudian aku mula menghisap dan menggigit lembut putingnya yang berwarna pink dan sedang menegang itu. Memang sedap bermain dengan buah dada Meen yang besar dan tegang. Meen mengerang kenikmatan sambil tubuhnya terangkat-angkat terkena seranganku. Sedap dengar bunyi sound effect yang keluar dari mulut Meen. Bertambah berahi aku. Sambil melepaskan geramku kepada buah dada Meen yang agung itu, tanganku mengusap-usap pantat dan celah peha Meen. Bila aku menggetel biji kelentitnya perlahan-lahan, Meen mengerang bertambah kuat. Tiba-tiba tubuhnya kejang dan aku dapat rasakan alur pantatnya begitu lencun. Pasti Meen dah climaks.

Setelah puas dengan buah dadanya, aku jilat perlahan-lahan hingga ke kepusat Meen dan kemudian terus kepantatnya. Meen cuba menghalang aku menjilat pantatnya tapi tak berjaya. Terangkat-angkat tubuh Meen bila lidahku mula berperanan di pantatnya. Pehanya mengepit kepalaku menahan sedap. Aku jilat-jilat kelentit Meen yang merah menyala dan nyata ini memberi kenikmatan yang asasi pada Meen. Air liur ku dah bercampur dengan air yang keluar dari pantat Meen. Banjir habis. Aku pun dah tahan. Zakarku dah tegang habis dan meminta-minta untuk meneroka lubuk pantat Meen yang masih suci itu. Aku betulkan kedudukan Meen dan menyuruhnya membuka kangkangnya dengan lebih luas lagi. Meen yang sudah hilang dalam alam nikmat hanya menurut saja kata-kataku. Aku tak perlu lapik punggung Meen dengan bantal sebab punggungnya memang tonggek dan berisi pejal.

Aku tindih Meen dan menciumnya. Sambil tu aku tujukan zakarku kemulut pantat Meen. Aku cuba masukkan kepala zakarku perlahan-lahan kedalam lubang pantat Meen tapi payah betul. Maklumlah masih dara tapi akhirnya berjaya juga kepala zakarku masuk. Meen merintih sakit dan aku memujuknya supaya menahan sakit. Perlahan-lahan aku meneroka lurah nikmat Meen dengan bantuan pelincir yang begitu banyak sekali. Tak dapat nak diucapkan nikmatnya.. Bayangkanlah dengan lembutnya, dengan ketat kemutannya dan yang paling best kehangatan lurah pantat Meen yang sungguh istimewa macam periuk nasi yang sedang hangat. Nak terpancut aku rasa walaupun baru masuk sikit.

Penerokaan zakarku terhalang oleh selaput dara Meen. Aku sorong tarik dengan hayunan yang bertambah keras dan akhirnya mahkota dara Meen berjaya aku takluki. Terjerit Meen bila zakarku menembusi selaput daranya. Aku tarik zakarku keluar dan mencium Meen. Aku lihat zakarku ada kesan darah dara Meen. Aku rasa bangga dan puas kerana menjadi orang pertama yang berjaya menakluki dara Meen. Aku lihat ada air mata melilih dari mata Meen. Aku memujuk Meen dan tekan ayat syahdu sikit. Meen cium aku dan kata "I love you". Aku pun kata aku love dia juga. Aku beritahu Meen aku nak terus make love dan dia hanya mengangguk lemah. Kesian pula tengok tapi mana boleh tahan sebab operasi belum habis lagi.

Aku serang balik buah dada Meen dan hisap putingnya cukup-cukup sambil Meen mengerang sedap dengan kuat. Lepas tu aku mula berdayung balik. Perlahan-lahan aku sorong tarik hingga akhirnya aku tiba didasar lubuk pantat Meen. Berdenyut-denyut zakarku kena kemutan Meen. Sedap betul. Aku sorong-tarik perlahan-lahan didalam lurah pantat Meen yang ketat tu supaya Meen tak terkejut dan boleh merasa nikmat memantat. Aku tanya Meen samada dia masih rasa sakit. Dia kata dia dah rasa mula rasa sedap.

Aku melajukan sikit hayunan sebab aku rasa aku dah nak climaks. Akhirnya aku terpancut dalam pantat Meen dan aku rasakan mahu sekati air maniku keluar. Sedap tak terkata. Aku cium Meen dan pujuk dia bahawa aku akan bertanggung jawab. Meen kata dia tak kisah sebab dia sayangkan aku. Aku cium Meen dan peluk dia. Meen kata dia tak pernah rasa nikmat sebegini dan ingin menikmatinya selalu dengan aku. Aku setuju dan akhirnya kami terlena keletihan.

Sepanjang di pulau itu, kami make love puas-puas dan Meen dah mula rasa sedap dapat batang zakar aku. Aku pun dah ajar dia macamana buat BJ. Selepas pulang, kami berlakon macam tak ada apa-apa berlaku tapi Meen dah jadi pengunjung tetap kondo aku secara rahsia. Aku suruh Meen cari kerja tempat lain sebab tak mahu hubungan kami diketahui oleh staff lain tapi Meen kata dia nak serve aku siang dan malam. Ada sekali tu kami make love dalam bilik aku di pejabat bila semua orang dah balik. Sempat juga aku merasa mendoggie Meen di dalam bilik aku. Saja nak rasa tapi tak boleh buat selalu nanti orang tahu.

Meen tak pernah menolak bila aku nak make love kecuali masa dia tengah period. Nafsunya juga kuat tapi aku tak kisah sebab main dengan Meen memang sedap habis. Aku rasa silap-silap aku akan kahwin dengan Meen tapi perkara tu tak timbul lagi sekarang. Meen pun dah pandai macamana nak bagi aku puas atas ranjang dan permainannya memang excellent. Memang dia secretary yang terbaik. Dia juga sentiasa make sure bodynya sentiasa tip-top dengan bersenam dan makan jamu semata-mata supaya aku puas dengannya. Kadang-kadang aku curi-curi merabanya ditempat kerja bila ada peluang. Meen juga akan biarkan aku menjamu mata melihat bahagian tubuhnya yang terdedah.

Meen juga sanggup memakai IUD supaya aku boleh pancut dalam dan tak payah pakai kondom. Aku paling suka position doggie bila memantat dengan Meen sebab bontotnya best. Aku tak tahu sampai bila dan macamana affair kami akan sampai ke penghujungnya. Sementara itu aku nak menikmati pantat Meen yang sentiasa hangat itu puas-puas.

Tamat



Selengkapnya...

Selepas aku balik dari oversea, aku diajak bekerja oleh seorang rakan keluargaku. So, aku dapat position yang senior dalam company-nya. Tugas disitu memerlukan aku selalu travel dan aku memang entitle untuk dapat seorang secretary. Aku pun suruh Personnel Dept. Conduct interview dimana aku turut serta sebab aku nak pilih yang best. Aku yang pilih sendiri candidate untuk ditemuduga dari ramai-ramai yang apply. Akhirnya, aku pilih seorang gadis bernama Jasmeen untuk jadi secretary aku.

Dia masih muda dan baru berumur dua puluh tahun. Selain dari kelayakan yang sesuai, aku pilih dia sebab orangnya cantik dengan body yang menawan. Dia ni mix parentage, bapanya keturunan Punjabi dan ibunya keturunan Cina. So, rupa macam heroin Hindustan dengan kulit putih kemerah-merahan. Body memang best seperti yang aku idam-idamkan. Dia ada height dengan sepasang kaki yang panjang dan mempunyai shape yang cantik. Badannya slim, lentik dengan punggung yang firm, padat dan tonggek sikit. Yang paling best ialah buah dadanya yang besar.. Aku rasa lebih kurang sama besar dengan buah dada Nana yang aku dah kerjakan dulu. So, dapatlah aku menjamu mata di tempat kerja. Aku panggil dia Meen dan dia panggil aku Mr. Jazz walaupun aku suruh panggil Jazz aja.

Kalau ikutkan hati memang aku nak aja tackle dia tapi terpaksa tahan sebab nak jaga kedudukan aku dalam company tu. Bising pula boss aku nanti kalau aku ada affair dengan secretary sendiri. Meen memang bergaya kalau dressing dan suka pakaian yang moden so dapatlah aku mencuri tengok peha dan pangkal buah dadanya yang putih melepak selalu. Geram betul aku tapi terpaksa tahan.

Kadang-kadang aku selalu curi-curi mengintai especially bila dia pakai baju low-cut dan terdedah di bahagian dada. Dapat juga aku tengok buah dadanya yang selalunya dibaluti bra half-cut. Ada sekali tu semasa dia mencangkung mengambil fail yang jatuh, aku dapat menatap pantiesnya sebab dia memakai mini-skirt hari tu. Memang tak tahan dibuatnya tambahan pula dah lama tak dapat memantat. Memang ramai yang cuba menggoda Meen tapi dia tak layan dan buat sombong. Yang bestnya, dengan aku dia manja dan mesra tapi tetap menghormatiku sebagai bossnya. Aku pun latih dia sebaik mungkin supaya jadi efficient dan mahir dengan kerjanya. Setahu aku dia belum ada boyfriend dan tinggal dengan keluarganya yang aku dengar loaded juga sebab Meen dah ada kereta sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku ditugaskan membuat presentation di sebuah negara kepulauan. Masa tu company aku tengah sibuk, so hanya aku dan Meen yang bertungkus lumus menyiapkan material untuk presentation. Jadi boss aku suruh Meen ikut aku terbang sekali supaya dapat membantu aku. Kecik tapak tangan, Stadium Bukit Jalil aku tadahkan. Meen pun nampak gembira sebab dapat travel. Kami pun berlepaslah ke pulau tersebut berdua.

Dalam kapal terbang aku pun berborak dengan Meen dan dari perbualan tu aku dapat tangkap bahawa dia tak bebas bersosial dan tak pernah ada boyfriend. Fikiran aku dah semacam tapi aku cuba concentrate dengan presentation yang akan aku buat. Keesokkan harinya, aku pun buat presentation dengan dibantu oleh Meen. Presentation kami berjaya dan mereka berminat untuk deal dengan company aku. Aku pun inform boss dan dia sangat gembira. Dia hadiahkan aku dan Meen cuti dua hari dan terus tinggal di pulau itu untuk berehat sebab dah bertungkus lumus prepare buat presentation. Sporting juga boss aku. Aku tanya Meen macamana dan dia pun suka nak stay lagi di pulau tu sebab tak sempat nak bersiar-siar lagi. Aku lagi lah happy sebab dapat bercuti free dan ada teman yang cantik dan solid-molid walaupun dia secretary aku. Aku dah mula fikir yang bukan-bukan.

Aku pun ajak Meen untuk celebrate malam tu dengan pergi dinner dan berparty ke disco atau karaoke. Meen dengan malu-malu kata dia tak ada bawa dress yang sesuai dan tak biasa berparty. Aku pun ajak dia pergi shopping dan berjanji nak belanja dia beli dress untuk malam itu dengan syarat dia mesti pakai dress yang aku pilih untuknya. Dengan manja dia bersetuju. Kami pergi shopping dan aku belikan dia night dress yang singkat dan sexy berwarna merah. Dia tak beri aku tengok dia cuba dress tu sebab nanti tak surprise katanya. Dia cuma beritahu bahawa saiz baju tu amat sesuai dengannya. Tak sabar aku nak tengok. Meen tambah relaks dengan aku dan aku pun suruh dia jangan treat aku sebagai bossnya semasa kami bercuti bersama di situ.

"Treat me as your boyfriend" gurauku. Dia cubit lenganku kononnya marah tapi tersenyum manis. Makin tak tahan aku dibuatnya. Kami pun pulang kehotel untuk berehat dan bersiap.

Pukul 8.00 malam tu aku ketuk pintu bilik Meen yang terletak disebelah bilik ku. Bila pintu terbuka, melopong mulutku melihat Meen yang cukup sexy dengan dress singkat tu ditambah lagi dia pakai kasut bertumit tinggi. Zakar ku terus menegang dengan serta-merta. Bahagian atas tubuh Meen di depan dan belakang cukup terdedah kerana dress tu low cut dan hanya ada spaghetti strap. Dress tu body hugging jadi buah dada Meen yang besar terbonjol dan macam nak terkeluar. Terserlah sebahagian besar buah dadanya dan aku boleh nampak kesan putingnya. Ternyata Meen tak pakai bra malam itu. Dress tu begitu singkat dan aku yakin kalau Meen duduk pasti boleh nampak pantiesnya. Aku dah tak tentu arah sebab nafsuku dah naik.

"Don't look at me like that.. Malulah I" kata Meen manja.
"You are so beautiful and attractive" pujiku.

Meen tersenyum dan tertunduk malu. Aku terus pimpin tangan Meen menuju ke restoran di tingkat bawah hotel itu. Aku sengaja pilih sudut yang ada privacy. Semasa dinner aku layan Meen macam layan kekasih.. Romantik habis. Meen beritahu aku dia tak pernah keluar berdua dengan lelaki tapi dia amat gembira keluar dengan aku malam itu. Lepas dinner aku ajak Meen pergi karaoke. Meen beritahu aku yang dia tak biasa pergi karaoke dan tak pandai menyanyi. Aku kata nanti aku ajar dan Meen balas dia memang nak belajar banyak perkara dari aku. Ini sudah bagus kata hati aku..

Aku ambil bilik karaoke yang kecil dan beri tips pada pelayan di situ sambil berbisik supaya jangan mengganggu kami. Aku dah nekad untuk buat projek dengan Meen dan aku rasa dalam hati Meen tak akan membantah. Suasana dalam bilik itu sungguh suram dan kami pun melabuhkan punggung di atas sofa. Dress Meen yang singkat terselak tinggi dan aku nampak pantiesnya yang berwarna hitam. Meen dengan malu-malu menyilangkan kakinya supaya pantiesnya tak kelihatan tapi tindakannya itu mendedahkan pula pangkal pehanya. Amat menggiurkan pemandangan itu.

Aku memilih beberapa buah lagu untuk dinyanyikan. Meen segan nak menyanyi so aku sorang aja yang menyanyi. Lepas dua tiga lagu, aku berhenti dan menatap muka Meen. Dia tunduk malu dan beritahu yang dia tak pernah berdua-duaan dengan lelaki. Aku pun pilih beberapa lagu sentimental dan ajak dia menari slow dance. Taktik biasa aku untuk dapat peluk dan raba perempuan. Mula-mula dia tolak sebab malu dan tak pandai. Akupun pegang tangannya dan berjanji untuk mengajarnya. Dalam malu-malu dia pun setuju. Gembiranya aku tak terkira.

Aku menarik Meen berdiri dan menyuruhnya merangkul tengkukku. Aku merangkul pinggang Meen dan menarik tubuhnya rapat ke tubuh ku. Badan kami melekat macam ada magnet. Aku dapat rasakan yang Meen gementar so aku berbisik kecuping telinganya supaya dia relax. Buah dada Meen menekan dadaku dan aku pasti Meen dapat merasakan zakarku yang mengeras kerana tubuh kami bersatu rapat.

Aku memandang tepat ke mata Meen dan bertanya samada dia gembira menari bersamaku. Meen kata dia gembira dapat menari bersamaku dan bertanya macamana pasangan kekasih menari. Aku pun beritahu macam inilah. Meen tergelak manja. Meen kata dia dah lama dia nak merasa menari slowdance dengan lelaki tapi tak ada peluang sebab tak ada boyfriend. Mendengar itu, aku pun berbisik pada Meen dan berkata aku nak jadi boyfriend dia. Meen terperanjat dan memandang aku macam tak percaya sebab dia ingat aku bergurau.

"I'm serious" kataku. Meen terdiam sekejap dan akhirnya dia confess yang dia pun memang minat kat aku. Dalam hati aku bersorak kegembiraan.

Aku menarik tubuh Meen lebih rapat dan berbisik bahawa aku nak cium dia. Meen berkata dia tak reti nak bercium. Aku balas dengan mencium pipinya dan perlahan-lahan bibirku bergerak mencari bibirnya. Akhirnya bibir kami bertaup dan aku beri Meen kucupan yang hangat. Aku lagakan lidahku dengan lidah Meen. Aku dapat rasakan nafas Meen bertambah kencang. Kedua-dua tanganku terus menjalar dan mengusap-usap punggung Meen yang pejal. Seterusnya, tangan kiriku mengusap-usap bahagian belakang tubuh Meen yang terdedah. Bibirku mula menyerang pangkal telinga dan tengkuk Meen. Dia tergelak kegelian.

"Jazz ni nakal lah" katanya.

Aku tolak tubuh Meen kedinding dan mengajarnya buat French kiss. Aku bagi Meen sup lidah. Dia mendengus kegelian. Sementara tu tanganku menjalar ke buah dada Meen dan berjaya meramasnya walaupun cuba dihalang Meen pada mulanya.

"Sedap tak" tanyaku.
"Eemm" balas Meen.



Ke bagian 2

 



Selengkapnya...

Makiko Suster Jepang 2

Posted by Melany Christy | 3:52 PM | , | 3 comments »

Kembali ke Kiko, mungkin karena melihat si Jendral yang tegap, tinggi dan gagah, dia jadi sangat bernafsu, atau mungkin juga khas cewe Nippon kalau oral suka liar seperti itu kali ya. Lidahnya semangat sekali mengitari palkon sambil sesekali menggigit kantung zakarku yang sudah mengeras. Sesekali disedotnya ujung palkonku lalu ditarik mulutnya sehingga mengeluarkan bunyi, "Spok.. spok..". Mulut mungil indahnya bagaikan vacuum cleaner, menyedot si Jendral. Jemari halusnya menyelinap di antara celah pantatku dan sekali-kali menggenggam si Jendral yang mulai berontak terkena siksaan.

Anyway, sementara itu, saya yang memang terasa mabok berat, hanya bisa ngelus-elus kepala dan mencengkeram rambut merah Kiko. Tetapi mendadak saya merasa mual sekali, lalu yang berikutnya terjadi sangat tidak hot. Saya tarik Kiko ke samping.
"Hooekk.." saya muntah berupa gumpalan kehijauan, tentu akibat minum sembarangan tadi. Kiko sempat tertegun sejenak tetapi kemudian tergelak melihatku terkena akibat polahku sendiri. Satu tangannya masih menggenggam si Jendral, satunya lagi menutup mulutnya. Tawanya lucu sekali seperti anak kecil. Itulah sifat kawai atau cute (lucu dan menggemaskan) yang khas cewe Jepang. Insting perawat yang dimilikinya membuat dia beralih membantu memijat tengkukku agar seluruh racun serangga itu bisa keluar. Lalu dia membantuku membersihkan dengan tissue. Akhirnya kami keluar dan duduk-duduk di tangga masuk.

Sepi. Kiko mengajakku ke apartemennya tetapi baru ada subway jam 4:30. Saya bersandar lemas ke pundaknya sambil merangkul. Tangan kananku menyelinap masuk ke dalam blazer sekaligus BH-nya, wah hangat. Terasa bongkahan susunya yang besar enak sekali diremas. Kumainkan puting susunyaibarat mencari gelombang siaran radio. Wah masih belum tune, sebab yang keluar hanya suara desis dari mulut Kiko yang lama-lama keenakan. Akhirnya kami berjalan berpelukan menembus udara dingin fajar Osaka. Untung ada tukang yakimot (ubi rebus). Kami makan sambil minum kopi otomat.

Singkat saja, kami sampai di apartemen (mansion) Kiko. Kecil memang ukurannya. Terdiri dari ruang utama yang sekaligus ada dapur dan sofa TV. Lalu kamar tidur 4 tatami (3X4m) dan kamar mandi. Rapih juga ruangannya. Tampak di sofa ada keranjang laundry, wah ada panties merahnya, ternyata Kiko hot betul. Aha, untuk apa lagi cewe pakai CD merah kalau tidak untuk memikat cowok di ranjang? Melihat arah pandanganku, Kiko dengan sigap memindahkan keranjang ke dalam lemari dinding. Kami lalu duduk di sofa kulit empuk. Otomatis tangan saya meraih remote dan menyalakan TV. Wah ada Doraemon, aneh, sepagi ini ada siaran kartun. Kiko lalu tiduran di pangkuanku sambil ikut menonton. Jemariku menelusuri rambutnya dan menyisirnya. Kadangkala kami tertawa bersama. Perlahan kami mulai tertidur dengan posisi tetap, dan jemariku sudah bersarang pada bukit lembutnya. Entah kenapa, saya merasa nyaman dan jantan sekali. Mungkin karena alkoholnya perlahan-lahan mulai hilang dan sikap manja Kiko yang membuatku merasa jantan.

Cewe Nippon memang terkenal top servisnya. Kira-kira jam 8 lebih, saya terbangun oleh sinar matahari yang menerobos melalui celah gordin jendela. Kiko masih terlelap dalam pangkuanku. Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, dan yang lucu dia sedang mengenyot jempolnya seperti bayi. Nah, kawan-kawan, cewe yang punya kebiasaan begini, oralnya pasti oke, sebab palkon kita mereka anggap dot. Hehehe. Tidak tahan kubelai juga rambut Kiko yang tergerai di atas pahaku. Oh ya, pada saat ini, pakaian saya sudah tinggal boxer shorts dengan kemeja digulung saja. Sementara Kiko memakai kaos kebesaran dengan celana pendek tidur berbahan sutra hitam. Masih memakai pakaian dalam lengkap. Karena rambut Kiko tergerai di paha, terus karena memang sudah kebiasaan tiap pagi, maka si Jendral menggeliat dan menegak. Kalau di film To Liong To, ini jurus Pilar Penyangga Langit.

Kulirik paha Kiko yang tersingkap, hmm, coklat kemerahan. Kebayang cewe ini sering berjemur. Pasti seksi keringatan begitu. Ah, yang penting kubelai dulu gadis imut nan lucu ini. Ternyata belaianku membuat Kiko terbangun. Walaupun tidak membuka mata tetapi senyumannya mengembang, masih sambil menghisap jempolnya. Tangan satunya kini menyelinap di antara pahanya dan pahanya semakin dirapatkan. Kuperhatikan betisnya yang lencir bulir padi, indah sekali, ditambah tumit yang lancip kecil berwarna pink. Walaupun udara kamar tidak terlalu dingin, namun tetap saja kulit kami merinding terkena dinginnya udara pagi. Tampaknya heaternya otomatis mati kalau jam segini. Biasanya sudah jamnya pergi ke kantor.

Insting gentlemanku membuatku berusaha meraih jas woolku di meja, lalu kupakai menyelimuti Kiko, kontras dengan warna kulit putih mulusnya.
"Samui desuka?" (dinginkah) tanyaku.
Kiko hanya mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Sudah tidak tahan saya dibuatnya. Toh, lagipula jelas Kiko sadar dan pasti merasakan kalau si Jendral tegak di dekat kepalanya, lalu tanganku menyelinap ke balik jas hitamku mengelus paha mulus Kiko.
"Jay, nemui desuyo" (Jay ngantuk nih), tiba-tiba Kiko protes manja.
Mendengar itu bukannya saya berhenti malah jemariku mulai menyelinap ke arah pangkal pahanya. Kiko hanya mendesah manja. Kini terasa lembutnya celana pendek piyama sutra. Kugesek sebentar kawasan seks spotnya, wah, langsung merembes pada celana sutra hitamnya. Kalau putih pasti jadi pulau!

"Oooh, Jay, I like that!" erang Kiko.
Kusingkirkan jasku lalu kutegakkan tubuh Kiko sejenak dan kubaringkan. Lalu kuambil posisi menindihnya tetapi masih kutopang dengan tanganku. Lembut kukecup bibir Kiko yang merekah. Dia langsung menyedot dan mengulum bibir bawahku. Tangan Kiko kini merangkul tengkukku dan bermain dengan rambutku. Tangan kananku masih menopang tubuhku, sementara yang kiri merangsang celah mecky Kiko. Jemariku kini menyelinap ke dalam celana sutra dan CD-nya dan merasakan halusnya labia mayoranya yang sudah basah, ternyata meckynya tercukur rapih. Jari tengahku mulai berani menembus celah basah itu.

Wah, sempit juga. Clup..clup..clup, jarang dipakai. Heran kan? Cewek sophisticated seliar ini masih rapat. Memang cewek Jepang biasanya walaupun liar tetapi kalau dalam kenyataannya pemalu, pemalu artinya tidak dapat banyak batang kejantanan (rea kanjeut). Kiko mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian saja saya tanggalkan semua. Kiko tidak protes, malah membantu. Giliran kini boxer shorts, saya tanggalkan. Kiko tampaknya tidak sabaran juga, kaosnya yang longgar langsung dilepas, lalu BH-nya. Kemudian dengan ganasnya dia mencopoti kancing kemejaku. Satu kancingnya sampai putus (sekarang masih saya simpan untuk memorabilia). Jadilah kami berdua totally naked and ready to pump.

Perlahan kugesekkan si jendral ke medan pertempuran. Palkonku mulai menyentuh labia minora Makiko. Woow.. rasanya panas, kontras dengan hawa kamar yang dingin. Lalu perlahan-lahan Makiko mulai mencoba memasukkan si Jendral ke liang vaginanya dengan bantuan tangannya. Kedua tanganku kekar menopang tubuhku pada sofa.
"Aaah.. Kiko oishi desuyo." desahnya.
Palkonku menembus bibir meckynya. Enak. Wah dengan hanya masuk kepalanya saja jelas saya tidak tahan.
"Blesek." Dengan sentakan saya mulai menekan ke bawah supaya si Jendral bisa masuk lebih dalam, untung si Kiko sudah basah. Dia hanya melotot kaget sebentar, sebelum akhirnya dia merangkul tengkukku dan menekanku pada dadanya yang bulat sintal putih. (Buah dadanya putih karena ketika berjemur tertutup BH, jadi seperti bikini line tampaknya).

"Jay, iku.. iku.. iku.. Jay, mo okii na." (Jay sakit, kebesaran tuh) Kiko terus merintih, sepertinya kesakitan betul.
Ya sudah, saya lalu pelankan sedikit temponya. Kalau cewe bule pasti akan bilang: kurang-kurangmasukinnya.
"Sori Kiko, kalau sakit bilang yah!" (dengan bahasa Indonesia setelah mengalami pengeditan) seruku berbisik lembut.
Kiko mengangguk, tampak setetes air mata di sudut matanya. Wah tidak tega saya. Ya sudah kubiarkan dia yang menentukan kecepatannya. Walaupun terasa vaginanya licin dan basah, tetapi sempit sekali. Dengan perlahan tetapi pasti, Kiko tetap memaksa si Jendral masuk. Perlahan dia menaikkan pinggulnya. Dengan gerakan setengah berputar, si Jendral tertekan untuk menyodok meckynya kembali. Si Jendral sudah tidak sekeras tadi gara-gara saya kasihan melihat nafsuku membuat Kiko kesakitan.

Lama-lama longgar juga (sedikit), lalu kuberanikan mulai mengenjot Si Jendral di dalam liang kemaluannya. Kiko mulai mengerang-ngerang tidak karuan. Liar dan seksi, tangannya kini meremaspantatku.
"Mpffhh, shh, ahh, ughh." desahnya tidak menentu sambil memintaku untuk tidak berhenti.
Gila apa berhenti? Jelas-jelas lagi enak. Beberapa menit kami begitu bersemangat berpacu dalam melodi hingga suatu saat, seketika si Jendral serasa dijepit oleh mecky Makiko, terasa dinding vaginanya meremas-remas dengan dahsyat sekali. Lalu pinggulnya liar menggelinjang dengan kuat, rupanya orgasme. Setelah itu terasa basah sekali sampai cairannya menetes pada kantung zakarku.

Tiba-tiba muncul seleraku menikmati juicenya yang jelas banjir itu. Kucabut si Jendral yang disambut protes wajah Kiko yang merengut. Namun begitu kuraih pinggulnya dia tahu maksudku. Dengan cepat dia berbalik lalu nungging, kedua tangannya menopang pada sandaran sofa sedang lututnya terkembang pada dudukan. Pantatnya yang bulat indah, megal-megol menggoda untuk dimasuki. Kiko tersentak kaget ketika ternyata saya tidak kembali melakukan penetrasi melainkan berlutut dibelakangnya lalu menjilati celah meckynya. Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Dia melenguh keras dan menikmatinya. Tidak lama kemudian kembali Kiko mengejang dan hidungku mendadak basah terkena cairan berbau khas yang meleleh. Ya sudah, sekarang giliran saya.

Tubuh Kiko langsung merosot lemas di atas sofa. Langsung saja kuangkat pantatnya lalu, bless.. Si Jendral masuk lagi dari belakang. Licin sekali sampai bunyi seperti orang kentut karena terlalu kencangnya genjotan.
"Iie, dame, dame Jay, dame!" Kiko berteriak menyuruhku berhenti tetapi mana mau saya berhenti.
Tangannya mencengkeram erat sofa dan tubuhnya terus menggelinjang hebat. Setelah kurang lebih 10 menit menggenjot liar, akhirnya saya cabut si Jendral, lalu kubalikkan tubuh Kiko. Dengan gerakan cepat kusodorkan saja batang kemaluan saya itu ke mukanya, langsung disosor, seketika rasanya sampai puncak. Kukeluarkan segenap benih cintaku ke dalam mulut Kiko yang terus menyedot. Wah, banyak sekali (sudah 2 minggu no sex). Sesekali si Jendral lolos, lalu muncrat ke mukanya. Kira-kira 6-7 semprotan kukeluarkan, dilahap habis oleh Kiko. Ternyata pengalaman nonton film bokep Jepang ada gunanya. Hari sabtu itu kami mandi bersama sebentar, lalu keluar mencari sarapan ke Ohsho (fast food Jepun). Lalu bisa dong ditebak, apa yang kami lakukan siang sampai malamnya. Bahkan malam Minggu pun saya masih menginap di sana. Setelah malamnya kami mencari ramen dan melakukan ML terus.

Tetapi hari Minggunya, saya ganti aktivitas, setelah mengambil notebook dan baju di hotel (sebelumnya di rumah Kiko pakai boxer shorts saja) lalu kembali lagi ke tempat Kiko. Membuat laporan sambil dipijat Kiko sang perawat seksi yang bugil. Tetapi ya, mana tahan sih? Lebih baik besok senin dimarahi sama boss daripada melewaktan kesempatan emas, hehehe. Selanjutnya kami masih kadang beremu walaupun no strings attached tetapi ya bukan sekedar weekend fling saja. Kan gentleman? Hehehe.

Tamat



Selengkapnya...

Makiko Suster Jepang 1

Posted by Melany Christy | 3:51 PM | 2 comments »

Saat ini, saya mau menceritakan tentang perawat. Kebetulan saya baru kecelakaan dan terpaksa dirawat, untungnya selalu ditemani cewe, saya jadi tidak terlalu bosan. Saya jadi ingat samaseorang perawat di Dai Nippon.

Kisah ini terjadi di Osaka (masih serangkaian dengan kisah Yakuza), saya masih bekerja/kenshu di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di sana. Nah, suatu ketika saya jatuh sakit, bulan Oktober 1999. Ini sebelum kisah Tina, cewek Sumitomo Vietnam yang blasteran Perancis itu. Saya kira-kira baru 2 bulan tinggal di Osaka. Saya ingat sekali kalau bulan 10 itu adalah bulan peralihan ke musim dingin dan banyak sekali topan badai. Nah, suatu pagi saya sengaja berdiri menantang badai dari balkon kamar lantai 7 saya hanya mengenakan celana dalam saja. Ternyata angin Typhoon itu panas, tidak dingin (tetapi bukan karena Balpirik). Tidak tahunya, besok pagi saya muntah darah. Langsung saja saya ke klinik (byoin) terdekat, sebab saya dilindungi insurance. Ternyata saya flu perut. Setelah itu saya didiagnosis dan diberi obat (2 hari sembuh lho! Itulah hebatnya dokter Nippon). Tetapi pengobatan seperti itu saja mengeluarkan 30.000 yen atau 2,5 juta rupiah! Pesan saya: Jangan bepergian tanpa asuransi.

Bukan Jay kalau tidak sempat ngelaba, kebetulan susternya cantik, setelah kulihat namanya, wah tulisan kanji, saya tidak mengerti. Terpaksa, saya hanya sekedar melirik dan melempar senyum kuda. Tetapi dasar beruntung, tiga hari kemudian kami bertemu di warung ramen (mie kuah) ketika saatnya lunchbreak. Kalau di Osaka, cobalah Kin Ryu Ramen, warung mie paling ngetop dan enak sekali, walaupun tentu masih lebih enak mecky segar. Tetapi mana ada mecky dijual di warung? hehe.

Kembali ke suster. Singkat saja, namanya Makiko, panggilannya Makichan. Dia sempat menanyakan kesehatan saya. Setelah basa-basi, kami janjian bertemu di Sony Tower Yodoyabashi pada hari Jum'at. Rencananya dia mau mengajak saya ke Funky Kurapu buat joged (disko). Dari kerlingannya ketika beranjak keluar warung, ketahuan suster ini hot juga. Jum'at malam saya kebetulan pulang dari proyek di Kyoto. Dari stasiun Namba, saya langsung ke Ebisucho dan berjalan cepat menuju Sony Plaza Tower. Dari kejauhan tampak bangunan putih menjulang, saya sudah semakin dekat.

Swatchku menunjukkan jam 8.15 PM. Padahal saya janjian jam 8. Wah, semoga belum pergi. Itu dia, dari kejauhan nampak seorang gadis berambut merah api mengenakan jas ketat putih dan span putih pendek. Makiko! Dia menyambutku dengan senyum manis walaupun sebelumnya sempat melirik jam di tangannya. Setelan bajunya sungguh menarik. Rupanya dia memadukan rok bawahan seragamnya dengan blazer ketat putih juga, sampai belahan dadanya nampak menonjol karena terlalu ketat. Sedangkan sepatunya sudah diganti sepatu hak tinggi (15cm) khas cewek Nippon yang gaul, bahan beludru hitam membuat tingginya melonjak jadi hampir setinggi saya. Wah, kasihan juga cewek imut manis ini menunggu kedinginan di tengah udara dingin musim postfall Osaka. Di tangannya terselip sebatang rokok putih, wah sexy sekali. Inilah gadis Nippon modern yang di kala siang bekerja giat sebagai perawat berpenampilan bidadari. Namun di kala malam berubah menjadi wanita sexy yang sungguh berkelas.

Kacamata biasanya telah berganti soft lens biru muda. Di leher jenjangnya terbelit syal bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak ketatnya blazer yang dipakainya, hmm kecoklatan, rupanya dia sering liburan ke pantai. Hmm, yummy.. totally fuckable!
"Ashkunate sumimasen!" ujarku meminta maaf atas keterlambatanku.
"Iie, daijobu des yo!" jawabnya memaafkanku.
Akhirnya kami langsung saja jalan sepanjang Arcade Shinshaibashi sambil bercengkerama, saya dengan bahasa Jepang pas-pasan saya dan Makiko dengan inggris terbata-bata. Yang jelas banyak ketawanya. Orang Jepang bila belum kenal terkesan sombong, namun bila sudah kenal ramahnya luar biasa. Ternyata dia suka berlibur ke Kuta. Karena itu dia begitu tertarik mengenal saya yang Indonesiajin. Tetapi dia belum tahu kalau saya pejuang aktivitas penis international yang bermottokan, "Semoga kontol nusantara tetap Jaya!"
Kalau tahu dia pasti akan segera lari.. memesan kamar..hehehe. Mitos bahwa cewe Jepang hot-hot itu sepenuhnya benar. Bayangkan kalau semua cowok Indonesia sibuk berkarir dan stress selalu, giliran mau ML kasar, padahal batangnya lembek. Bisa dijamin cewek Indonesia juga hot-hot. Lha, wong sekarang saja sudah hot.. kan pake AC. Obrolan kami semakin hangat dan Makiko (yang akhirnya kupanggil Kiko) mulai merangkul tanganku. Saat itu saya mengenakan setelan jas wool hitam plus kemeja abu-abu tua. Jadilah kami pasangan hitam putih.

Udara dingin Osaka membuat Kiko semakin merapatkan diri. Dadanya kini menempel pada lenganku yang kekar. Sampailah kami pada sebuah tangga ke bawah tanah yang dari luar terlihat seperti basement apartemen biasa, eh.. ternyata setelah masuk terdengar musik soul funk menghentak diiringi lampu laser warna warni berputar menari. Setelah membayar 5000 yen tiket (all you can drink) kira-kira 400 ribu rupiah, kami memasuki hall seluas lapangan voli yang penuh orang joged berjajar rapi (khas Nippon). Di tengah ruangan terdapat semacam catwalk berliku dimana gadis-gadis berpakaian super seksi berjoged liar. Mereka jika siang hari berprofesi sebagai sekretaris, office clerk sampai account executive, semua menari sexy sambil tertawa riang. Terus terang ini saat pertama kali saya masuk underground 'Kurapu'. Ternyata benar-benar mungil tetapi ramai. Jadi maklum kenapa turis Jepang kalau di Bali suka salting. Maklum, tidak biasa di tempat yang benar-benar 'bigtime'.

Langsung saja Kiko menyeretku untuk joged, wah dirty dancing juga. Si Jendral jelas siaga perang. Paha kami saling mengapit sambil bergoyang funk (itu lho musik negro 70-an). Serasa John Travolta di Pulp Fiction. Sekali-kali Kiko dengan sengaja menggesekkan dada dan perutnya padaku. Buahdada semangkok bakso itu ternyata padat sekali, mungkin karena tekanan blazer ketatnya. Kancing atas blazer Kiko sudah dilepas, sehingga renda BH hitamnya mengintip, tentu beserta belahan susu ranumnya. Sejenak saya berpikir ada yang kurang, oh ya, saya belum minum. Kebiasaan (buruk) saya doyan alkohol. Apalagi di bar ini minuman berkelas semua ada. Kalau ada pembaca yang protes tukang gele dan mabok kok kuat ML, lucky kali. Mungkin ada mas-mas yang kalo mabok to'olnya lupa berdiri, yang pasti itu berbeda dengan saya.

Sementara itu, Kiko tampak terpejam menikmati goyangan musik. Saya terus menanyakan barnya, bagi saya uang 400 ribu rupiah termasuk banyak untuk happy semalaman. Saya bukan termasuk pemakai drugs PT, extacy atau SS, yang bisa mengehabiskan jutaan rupiah dalam semalam plus booking ceweknya. Itu cukong loser! Kalau saya cukup booze and pot plus cewek yang nyantol sendiri. Murah tetapi seru. Sesampainya di bar, langsung saja saya minta yang paling istimewa.
"Ichiban suyoi kudasai!", pinta saya.

Setelah bergelas-gelas sierra, gorbatchev dan chivas regal tidak menampilkan reaksi. Akhirnya bartender (ternyata arsitek juga) memberiku arak rahasianya.
"Kore wa nana ju go pasento!", kata bartender.
75 persen alkohol, tetapi reaksinya dia tidak mau tanggung jawab. Saya mengangguk saja. Cepat kutenggak. Aw, serasa terbakar tenggorokan! Kalau tiak salah, namanya Roncalli. Warnanya hijau muda.

Sambil minum, saya dihampiri beberapa gadis yang menawarkan dagangan untuk menemani, dari tampangnya sepintas dari Asia Tenggara. Saya tersenyum saja sambil mengatakan kalau saya orang RI. Mereka tertawa dan terus ngeloyor pergi.
Salah satunya sempat bilang, "Salam buat orang rumah, mas!"
Belum sempet saya menanggapinya, cewek putih, sexy, berambut panjang itu sudah menyapa laki-laki berjas lain. Mungkin karena pakaian kantorku, mereka mengira saya esmud yang kesepian. Jangan salah, banyak juga cewek Indonesia di sana. Setelah itu saya ngeloyor turun ke bawah. Ternyata minuman iblis itu mulai bereaksi. Sambil jalan, saya berjoged sambil meremasi pantat gadis-gadis yang kulewati.
Kalau ada yang protes, cukup bilang, "Yurushite, chotto yopparai desu". (Maaf agak mabok nih).
Paling mereka diam, lagian kebanyakan tidak protes kok. Nah, ngapain lagi mereka ke 'kurapu' kalau tidak ingin digoda dengan cowok. Bagi para feminist, saya akui malam itu saya amat tidak gentleman. Maklum pemabuk horny.

Lama juga, akhirnya saya sampai ke Kiko. Dia tengah dikelilingi 3 CBL (cowok bertampang loser) yang berjoged. Semuanya berdasi, wah tampaknya salaryman kesasar. Memang banyak juga lelaki pulang kantor mampir. Sama seperti di sini (Indonesia). Kiko tampak memegang gelas. Rupanya para CBL tadi berusaha membuat dia mabuk. Tetapi tampaknya Kiko cukup cuek. Langsung saja kuajak Kiko pergi cari tempat duduk sambil kuseret tangannya. Para CBL tadi tampak kecewa tetapi tidak berani menentangku. Bayangkan saja, ada cowok berbadan besar (bagi mereka saya termasuk berbadan besar), berambut panjang diikat, pakaian hitam-hitam dan bermata merah serta bau alkohol. Serem kan? Kiko tampaknya senang, saya sudah menyelamatkan dia. Tanpa saya cerita, Kiko tampaknya bisa melihat kalau saya baru minum gila-gilaan, kerah saya saja belepotan alkohol. Dasar orang udik, saya sampai kapok.

Kiko lalu mengajakku keluar hall. Kami lalu menuju ke barisan locker, karena saya mulai kepanasan memakai jas terus. Setelah memasukkan koin 100 yen, langsung saya kunci. Saya lalu mengajak Kiko ke otomat untuk beli kopi instan. Ternyata Kiko ada akal lain, diseretnya tanganku menuju ke WC lalu berdua kami masuk ke dalam salah satu bilik. Kalau anda baca cerita Jay Yakuza, pasti anda berpikir, kenapa Jay selalu memakai tempat umum tertutup untuk beraktivitas (ML), jawabnya karena memang di Jepang, yang namanya Rabu Hoteru (motel esek-esek) harganya mahal juga dan bagi para petualang muda, lebih seru di tempat umum. Memang tujuan kamike WC bukan sekedar pipis. Tahu kan?

Kiko memelorotkan celana dalamnya lalu duduk kencing di kloset. Setelah itu, gantian saya mengeluarkan si Jendral. Setelah saya kencing cukup banyak dan berbau alkohol, saya cuci pakai air semprotan. Ternyata karena agak mabuk, airnya mengenai celana hitamku. Untung karena hitam jadi tidak terlalu kelihatan. Tetapi dasar perawat, Kiko lalu mengambil toilet paper, lalu jongkok membersihkan celana basah saya. Sementara itu si Jendral masih melongok keluar boxer shorts dan risluiting saya, sekalian dikeringkan oleh tangan Kiko yang cekatan. Terkena jemari mulus yang dingin itu, jelas saja, si Jendral langsung siaga kuning. Melihat itu, Kiko lalu tersenyum dan melirik ke arahku, lalu Jendral saya yang mekar langsung saja dikulumnya. Terkena perubahan suhu begitu, si Jendral langsung code red. Mulut Kiko yang imut khas wanita Nippon jadi tidak mampu menampung keseluruhannya, hanya palkon (kepala kemaluan) dan batang sedikit.

Bagi rekan cowok yang ingin merasa jantan, jangan sama bule, sama cewe Nippon saja. Coba lihat film bokep Jepang, burung cowoknya kecil-kecil, itu saja sudah diandalkan. Untung orang melayu masih berdarah Melanesia, jadi campuran Asia dengan Polinesia. Saya pernah baca survey mengenai panjang kelamin pria sedunia, ternyata rata-rata cowok Asia memiliki panjang 12,5 cm (5 inch), lalu kalau saya 15 cm (6 inch) dan Negro 17,5 cm (7 inch). Nah, kalau diantara mas-mas sekalian yang punya panjang lebih dari 13 cm, bersyukurlah, anda sudah di atas rata-rata cowok Asia. Jadi sebesar itu akan jaya dalam aktivitas ML.



Ke bagian 2 Selengkapnya...

Mahasiswiku Kekasihku

Posted by Melany Christy | 3:47 PM | , | 5 comments »

Namaku D, aku dipaksa kawin demi kelancaran bisnis orang tuaku. Istriku dari keluarga kaya, menghabiskan uang bapaknya terus, dan tidak pernah menghargaiku. Setelah 3 tahun kawin tanpa anak, aku pilih cerai dan pergi dari kota asalku B. Aku sebagai insinyur arsitek kemudian bekerja di kota J sebagai pemborong kecil-kecilan. Aku juga bekerja sebagai asisten di Universitas T. Dalam umur 31 tahun ini, barulah aku merasakan hidup bebas, meskipun tidaklah kaya secara materi.

Saat itulah aku bertemu dengan M, mahasiswi tahun ke-2, umur 21, anak kost asal S. Tinggi badan 167 cm, dada & pantat berisi. Kulit putih bersih tipikal orang Cina. Mata sipit tapi cantik dengan bibir merekah dan rambut sebahu. Meskipun tertarik, aku tidak banyak harap, kami berbeda suku, agama, dan tingkat ekonomi.

Situasi berubah ketika dia menyatakan berminat bekerja sebagai desainer untuk proyek pribadiku. Pikirku, anak orang kaya kok mau kerja, tidak seperti ex-istriku. Harus kuakui, dia punya bakat seni gambar desain yang bagus. Aku langsung setuju. Aku cari proyek, aku dan dia menggabungkan ide untuk gambar desain ruang. Kami membicarakan proyek di kampus setelah orang lain pulang. Sebagai laki-laki yang lama tidak merasakan nafkah batin, hal ini benar-benar menggodaku. Apalagi setelah itu kami sering bekerja berdua di rumah kontrakanku. Aku juga punya 2 pekerja lain, namun mereka biasanya kerja di lapangan dan jarang di rumah. Aku suka melihat belahan dadanya yang putih ketika dia menggambar sambil membungkuk. Ingin rasanya kuremas dan kuhisap puting susunya. Aku sering berjalan di belakangnya. Ingin kuremas pantatnya yang lagi nungging dan kuselipkan penisku di antaranya. Namun aku tidak ingin menyakiti perasaannya.

Hari itu dia sudah hampir pulang naik bis kota. Aku terima telepon, aku mendapatkan proyek besar. Ini berasal dari client lama karena puas dengan kerja kami. Aku bilang, ini karena jasamu, kita memang tim yang kompak. Apa kamu mau jadi partner bisnisku seterusnya. Dia cuma tersenyum. Kalau lebih dari itu, tanyaku nekad. Dia diam saja. Aku terus peluk tubuhnya dan kucium bibirnya yang merekah. Dia tidak menolak.
"Apa kamu tahu latar belakang hidupku", tanyaku.
Dia jawab "Ya, S (pegawaiku yang lain) cerita banyak".
"S memang banyak ngomong", kataku. "Kamu terus bagaimana", lanjutku.
Dia bilang, aku tidak peduli, aku suka orang yang kerja keras. Keluargaku kaya tapi pada manja, itu sebabnya aku kuliah di luar kota. Ternyata kami berdua memang benar-benar cocok
"Apa kamu pernah pacaran", tanyaku.
"Belum", jawabnya.
"Mau saya ajari", tantangku. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung hisap bibirnya dan kugelitik lidahnya. Aku terus remas pantatnya, nikmat dan padat. Kurapatkan dadaku ke dadanya yang kenyal. Juga kuganjalkan penisku yang sudah tegang ke selangkangannya. Dia jadi gelagapan dan bingung. Tangannya meremas-remas dari rambutku sampai punggung dan pantatku.
"Mau terus", tanyaku.
Dia bilang, "Jangan.." Aku terus mundur, karena aku menghormatinya.

Pada suatu hari, aku tidak mampu menahan nafsuku lagi. Waktu itu malam minggu jam 8-an. Kami membicarakan desain gambar di rumahku. Entah bagaimana kita jadi berciuman sambil berdiri dan saling meremas. Dia pakai rok terusan. Tanganku merogoh ke balik roknya. Dia menolak kaget, ini pertama kali aku menjamah tubuhnya secara langsung. Aku sudah nekad, dengan pengalamanku yang segudang aku taklukkan dia. Kedua tanganku merogohi dan meremasi pahanya sampai ke atas, perut, dan dada. Kuangkat roknya tinggi-tinggi. Badannya benar-benar putih dan mulus. Aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Aku berlutut menciumi paha dan perutnya. Dia benar-benar tidak berdaya. Kulepas zipper di punggungnya, dengan sekali angkat, lepas rok itu dari tubuhnya. Kulepas BH-nya, kujilati susunya yang montok putih. Kuhisap puting susunya yang masih perawan, warnanya coklat muda. Tanganku meremas susu satunya dan menggerayangi tubuhnya yang halus. Kutarik CD-nya sampai ke bawah kaki. Dia kaget dan bilang jangan. Namun sebelum sempat mengelak, aku cepat-cepat berlutut. Kujilati liang kenikmatannya dan kugelitik clitorisnya. Rambut kemaluannya halus, liang kewanitaannya merah muda dan harum baunya. Kujejal-jejalkan dan kukorek-korek lidahku di dalam liang kewanitaannya. Cairannya banyak, aku lahap semua. Sementara itu tanganku meremas-remas pantatnya yang putih padat.

Dengan sekali angkat dia sudah berada di atas meja gambarku. Kedua pahanya mengangkang, sementara tubuhku berdiri di antaranya. Cepat-cepat kubuka baju, celana, dan CD-ku. Kita sekarang sama-sama telanjang. Kakinya terus kuatur melingkar di pinggangku. Penisku kuarahkan ke liang senggamanya. Dia tak mampu menolak lagi. Dengan mata was-was, dia memandang penisku yang mendekati liang senggamanya. Aku masukkan kepalanya dulu dan kuayun pelan-pelan. Dia merinding dan tambah ngos-ngosan. Kusodokkan lebih dalam lagi, dan kurasakan selaput daranya robek. Dia menjerit sambil mempererat pegangan tangan dan kakinya. Aku berhenti dulu untuk memberi dia kesempata bernapas. Kemudian kuayun pelan-pelan sambil terus kumasukkan penisku sampai mentok. Dia melihat selangkangannya dengan takjub, baru menyadari kalau penisku sudah terbenam di perutnya. Selangkanganku yang hitam menempel erat dengan miliknya yang putih. Kuayunkan penisku pelan-pelan. Matanya yang sipit tambah sipit karena merem keenakkan. Aku ayun penisku lebih cepat, mulutku menghisap susu dan bibirnya bergantian, tanganku meremas erat pinggul dan pantatnya.

Dihadapanku adalah tubuh putih mulus menggeliat-geliat menahan desakan tubuhku yang hitam. Inilah impianku sejak dulu. Mungkin karena sudah lama tidak berhubungan, aku merasakan akan keluar. Aku tahan dengan cara rileks, aku tunggu dia sampai puncak. Beberapa saat kemudian aku melihat wajahnya berubah menahan ngilu yang amat besar. "Aduh, aduh", katanya. Aku percepat ayunan penisku sampai meja gambarku berderit-derit. Kemudian aku merasakan lahar panas keluar di dalam liang liang surganya, tepat di mulut rahimnya. Dia menjerit sambil mencakar pundakku. Badanku kejang, "aduh M", kataku, aku keluar. Kurasakan juga cairan hangat dari dalam liang kewanitaannya membasahi penisku dan selangkangan kami berdua. Nikmat sekali, jauh lebih nikmat daripada ex-istriku dulu yang berkulit hitam sepertiku. Setelah itu kami berpelukan lama di atas meja gambar. Dia nangis.
"Apa kamu marah", tanyaku.
"Tidak", katanya. Pandangan kami berdua tertumpu pada banyak cairan bercampur darah di atas meja gambarku.
"Sexnya orang arsitek", kataku. Kami berdua terus ketawa bersama sambil berpelukan.

Hari-hari selanjutnya kami isi dengan acara seks yang lebih panas. Aku ajarkan dia cara KB. Aku ajari dia beberapa posisi baru. Kami melakukannya di atas kasur tidur, sofa, dan di kamar mandi. Meja gambar sudah tidak pernah kami pakai lagi, kecuali untuk menggambar tentunya. Oh, ya aku juga mengajarinya felatio. Aku suka lihat bibirnya yang merekah dan pipinya yang putih menghisap penis hitamku.

Dua tahun yang lalu dia lulus, dan kami terus menikah. orang tua kami tidak setuju, tapi kami tidak peduli. Dalam hal agama, dia setuju mengalah. Dalam masa krismon ini, kami jarang sekali mendapatkan proyek. Tapi kami tidak takut, karena kami sudah biasa hidup sederhana dan kerja keras. Lagi pula, kami sudah punya banyak tabungan. Suatu hari nanti kondisi pasti membaik.

Tamat



Selengkapnya...